Kamis, 22 November 2012

Curriculum 2012-2013



Curriculum 2012-2013
The MS&E program is a three-semester program which can be completed in a single calendar year. Students enter in the Fall term and can either finish their coursework at the end of the following August, or alternatively, have the option to take the Summer term off (e.g. for an internship) and complete their coursework by the end of the following Fall term. Students are required to take the equivalent of 12 three-credit courses (36 credits), provided they have adequate preparation in the areas of probability/statistics. In the absence thereof, they are required to take one additional three-credit course.
Students must take at least 6 courses within the IEOR Department, 4 to 6 courses at the Business School, and the remaining courses (if any) within the School of Engineering, the School of International and Public Affairs, the Law School, or the Departments of Economics, Mathematics and Statistics. Students in residence during the Summer term take 2 to 4 Business School courses in the third (Summer) semester in order to complete their program.
 
Course Requirements
Courses with a FINC, DRO or B designation are Business School courses. Courses with IEOR, SIEO and IEME designations are IEOR department courses. "Fall or Spring semester" refers to courses that are offered twice a year (fall and spring) and can be selected either semester.
 
Core:
IEOR E4004: Intro to OR: Deterministic Models (first (Fall) semester)
IEOR E4106: Intro to OR: Stochastic Models (Fall or Spring semester)
IEOR E4111: Operations Consulting (first (Fall) semester, continues in the spring semester till May)
(
SIEO W4150: Introduction to Probability and Statistics must be taken if student has not taken the equivalent previously. First (Fall) semester)
Semi-Core (Management, Analysis & DRO Electives):
Management Electives (at least 2 out of):
ECIE W4280: Corporate Finance (Fall semester)
IEME E4310: The Manufacturing Enterprise (Fall semester)
IEOR E4505: Operations Research in Public Policy (Spring semester)
IEOR E4510: Project Management (Spring semester)
IEOR E4520: Applied Systems Engineering (Fall semester)
IEOR E4550: Entrepreneurial Business Creation for Engineers (Fall or Spring semester)
IEOR E4705: Studies in Operations Research (Fall semester)
IEOR E4721: Global Capital Markets (Fall semester)
IEOR E4998: Managing Technological Innovation & Entrepreneurship (Fall or Spring semester)
FINC B8301
: Advanced Corporate Finance (Spring semester)

Analysis Electives (at least 2 out of):
IEOR E4000: Production and Operations Management (Fall semester)
IEOR E4403: Advanced Engineering & Corporate Economics (Fall semester)
IEOR E4404: Simulation (Fall or Spring semester)
IEOR E4405: Production Scheduling (Spring semester)
IEOR E4407: Game Theoretic Models of Operations (Fall semester)
IEOR E4418: Logistics and Transportation Management (Not offered 2012-13)
IEOR E4507: Operations Management: with Applications to Healthcare Management (Fall semester)
IEOR E4601: Dynamic Pricing and Revenue Optimization (Spring semester)
IEOR E4611: Decision Models and Applications (Spring semester)
IEOR E4615: Service Engineering (Spring semester)

Decision, Risk and Operations Electives (at least 3 out of):  
DRAN B8832: Applied Multivariate Statistics (Summer semester)
DRAN 8834/OPMN B5201: Decision Models II/Operations Strategy (Summer semester)
DRAN B8839/IEOR E4220: Demand and Supply Analytics (Spring semester) 
DRAN B8840: Enterprise Risk Management (Not offered 2012-13)  
DRAN B8842/OPMN B5201: Decision Models II/Operations Strategy (Summer semester)
DRAN B8850: MSE Game-Theoretic Business Strategy (Fall semester)
DRAN B9801/IEOR E4520: Computing for Business Research (Spring semester)  
MRKT B8617: Marketing Research (Summer semester)
OPMN B8811: Service Operations (Spring semester)
OPMN B8815/IEOR E4210: Supply Chain Management (Spring semester)
OPMN B8824: Intro to Sports Analytics (Fall semester)
OPMN B8833: Managerial Negotiations (with Game Theoretical Analysis) (Fall semester) 

Other Electives:
The remaining electives can be selected from the Business School, the School of Engineering, the School of International and Public Affairs, the Law School, or the Departments of Economics, Mathematics and Statistics.
 
Priority for Business School Courses
All Business school courses listed above are open to MS&E students. MS&E students will enjoy some priority for other business school courses as described below:
When courses are under-subscribed by Business School students during pre-registration, the courses are normally eligible for cross-registration by students in other schools. MS&E students will receive priority to register for these courses prior to their being made available to students in other programs and Schools. If more MS&E students wish to enroll in a course than there are seats available, the IEOR department will make the decision on the students who will get the spaces (e.g. based on a lottery or GPA). Only if additional space is available after MS&E students have signed up, then these courses will be made available to other cross-registration students at the University.
When courses are subscribed close to capacity during pre-registration, available seats will be open to all students on a first come/first served basis after the first class.

Budaya Bangko




Bangko
Jenis masakan ikan pepes sama dengan jenis masakan yang umum dikenal pada masyarakat Indonesia pada umumnya. Semua jenis ikan dapat dimasak dengan cara ini. Bagi masyarakat suku bangsa Batin, jenis ikan yang dipepes adalah ikan-ikan sungai seperti ikan: lele, gabus, patin, emas, gurami, belut, lambak dan lain-lain.
Ikan merupakan salah satu jenis makanan utama sebagai lauk untuk mengiringi makan nasi atau ubi Untuk memperoleh ikan-ikan itu, tidaklah sulit bagi masyarakat suku bangsa Batin, karena sungai atau empang relatif dekat dengan pemukiman mereka. Teknologi tradisional yang mereka lakukan sudah dapat untuk memenuhi keinginan mereka untuk menangkap ikan. Cara yang dilakukan yakni dengan jalan memancing, menombak, menyuluh, dan juga memasang bubu. Di kala senggang pencari ikan memilih sekitar sungai-sungai kecil yang masih di kelilingi oleh semak belukar. Sungai-sungai itu sengaja dibiarkan menjadi semak belukar, dengan ranting-ranting kayu dan kayu-kayu tumbang melintang di atas air dengan maksud agar ikan-ikan tidak terganggu perkembangbiakannya. Ikan-ikan berkembang biak diantara pepohonan lapuk yang tumbang di air atau juga berada di balik semak belukar yang berada di pinggiran sungai. Tempat seperti itulah yang paling banyak ikannya, dan dijadikan lokasi bagi masyarakat suku bangsa Batin untuk menangkap ikan. Selain itu dapat diambil sendiri dari kolam milik sendiri atau dengan cara membeli di pasar.

Pada umumnya cara memasaknya, mula-mula ikan dibersihkan, lalu diberi garam, asam atau cukai. Bumbu-bumbunya juga boleh dari mulai yang sederhana sampai yang lebih kompleks. Setelah itu dibungkus dengan daun pisang. Kemudian dipanggang (diletakkan di atas bara api). Bumbu yang digunakan tergantung dan atau terkait dengan kondisi lingkungan masyarakat Batin.

Ikan Pepes disantap untuk mengiringi makanan nasi sebagai lauk. Lauk ini sangat nikmat bila ditambahkan dengan sayur-sayuran bening ataupun lalapan. Kadang-kadang juga dimakan dengan ubi rebus. Ikan Pepes tidak dimasak untuk acara-acara seperti pesta perkawinan maupun pesta lainnya. Masakan ini hanya untuk disantap sebagai lauk dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut ini akan diuraikan beberapa macam masakan khas daerah Merangin yang berkaitan dengan ikan yang dipepes.

Pepes Tempoyak Ikan Patin
Pepes Tempoyak Ikan Patin adalah salah satu makanan tradisional yang khas bagi umumnya masyarakat Merangin. Kabupaten Merangin didiami oleh beberapa suku bangsa, tetapi yang dominan adalah suku bangsa Batin, Penghulu, dan Pindah. Dari namanya, secara sederhana dapat kita duga ketahui bahwa bahan dasarnya terdiri dari minimal dua bagian yang utama yaitu tempoyak dan ikan patin. Bahan ini kemudian dicampur dengan bumbu, lalu dipepes.

Untuk mengetahui secara jelas, sebelumnya dijelaskan dulu dua bahan utamanya, yaitu tempoyak dan ikan patin. Tempoyak adalah daging durian yang telah di ambil bijinya, kemudian dimasukkan ke dalam wadah (biasanya di daerah Merangin dalam bambu, sekarang di perkotaan disimpan dalam wadah stenlees), kemudian dibiarkan selama 3 hari sampai rasanya sudah asam. Tempoyak ini juga disebut asam durian atau asam poyak.

Tempoyak ini berkaitan dengan sistem teknologi masyarakat Batin yakni bagaimana mereka dapat mengawetkan makanan. Kemungkinan asal mulanya tempoyak ini adalah untuk menjaga agar durian tidak terbuang percuma, karena durian ini berbuah serentak dalam suatu musim dan tempat atau wilayah tertentu dan dalam jumlah yang banyak. Untuk itu, dicarilah jalan bagaimana cara mengawetkannya agar tahan lama.

Selanjutnya, agar tidak terbuang percuma, masyarakat melahirkan suatu teknologi tradisional yaitu dengan mengawetkannya. Caranya, durian dikupas kulitnya, lalu diambil daging lunaknya dan dikumpulkan pada satu wadah (tempat). Agar tidak basi, dicampur dengan sedikit garam. Durian yang diawetkan inilah yang dinamakan dengan tempoyak. Kebiasaan mengawetkan ini menjadi berulang setiap musim dan menjadi tradisi bagi masyarakat pendukungnya. Dahulu, karena bambu mudah didapat, maka wadahnya adalah bambu. Bambu ini ditutup dengan daun pisang atau plastik untuk menjaga agar tidak kotor dan berjamur. Sekarang, di Kabupaten Merangin terutama daerah Bangko, wadahnya kebanyakan dari aluminium atau stenlees dan disimpan dalam kulkas. Sedangkan di perkampungan kebanyakan masih memakai bambu dan tempat menyimpannya juga diatas tempat masak (para-para).

Sekarang pembuatan tempoyak bukan lagi sebatas agar tidak terbuang atau sekedar pengawetan belaka, tetapi berkaitan dengan tradisi atau kebiasaan masyarakat bukan saja hanya di kabupaten Merangin, bahkan hampir di sebagian besar daerah Indonesia. Hanya saja nama dan cara penyajiannya bisa berbeda, seperti di daerah Tapanuli Tengah disebut “joruk”.

Bahan dasar lainnya adalah ikan patin. Ikan patin banyak terdapat di sungai-sungai yang mengalir di daerah kabupaten Merangin ataupun dari wilayah kabupaten lainnya seperti Sarolangun dan lain-lain. Ikan ini rasanya gurih. Kegurihannya menjadikannya banyak disukai orang dan akhirnya harganya lebih mahal bila dijual. Pencari ikan di sungai akan merasa senang sekali bila mendapatkan ikan patin ini.

Untuk pembuatan pepes tempoyak ikan patin dalam ukuran yang ideal adalah sebagai berikut: Untuk pepes ikan patin 1 kg dibutuhkan bumbunya antara lain, setengah ons cabe rawit; tiga perempat kilogram tempoyak; satu ruas jari kunyit; 1 batang serai yang dimemar atau digiling; daun kunyit secukupnya; daun kemangi secukupnya; garam secukupnya dan daun pisang untuk pembungkus. Daun pisang pembungkus ikan pepes ini tidak susah dicari, karena selalu ada hampir di sebagian besar pekarangan rumah orang Batin.

Cara membuat pepes ini adalah ikannya dipotong-potong (tidak terlalu tebal) dan dibersihkan. Semua bahan dan bumbu dihaluskan, kecuali kunyit dan kemangi. Setelah itu bumbu dan tempoyak diaduk sampai rata, kemudian dicampurkan dengan ikan patin. Setelah semua merata, lalu dibungkus dengan daun pisang. Selesai dibungkus, lalu dipanggang sampai masak dan siap dihidangkan.

Pepes Ikan Mumbang Kelapa
Pepes Ikan Mumbang Kelapa adalah lauk untuk makanan pokok sehari-hari yang seringkali dimakan pada waktu makan siang. Bahan-bahannya terdiri dari ikan lambak (ikan kecil-kecil dari sungai), mumbang kelapa muda (cengkir kelapa); cabe, bawang merah, bawang putih secukupnya; gula, garam dan kunyit secukupnya dan ditambah dengan asam jeruk dan kemiri sedikit.

Ikan lambak sebagai bahan utama pepes ini, banyak didapati di sungai-sungai yang mengalir di daerah Merangin ataupun di kolam-kolam serta empang, contohnya di kota Bangko sendiri. Keadaan alam Bangko adalah merupakan lembah yang dilewati oleh sungai-sungai. Kota Bangko sendiri dibelah oleh salah satu sungai yaitu Sungai Batang Hari yang banyak memiliki ikan-ikan yang dijadikan bahan tangkapan masyarakat Bangko untuk dijadikan lauk.

Jauhnya daerah ini dari laut, menjadi faktor utama mengapa masyarakat menjadikan ikan-ikan sungai menjadi santapan /lauk utama sehari-hari yang digemari oleh masyarakat setempat. Dalam hal ini jelas lingkungan mempengaruhi kebudayaan masyarakat pendukungnya. Lingkungan menempa kebiasaan masyarakat untuk menselaraskan dirinya dengan kondisi yang ada agar mereka dapat bertahan dan menikmati hidup.

Cara membuat pepes ikan ini adalah sebagai berikut: setelah mengumpulkan semua bahan-bahan yang diperlukan, maka semua ikan tersebut dibuang kepalanya, lalu dicuci. Kepala-kepala ikan ini di beberapa tempat yang ada kolam atau empang, dikumpulkan untuk dijadikan pakan ikan atau boleh juga diberikan untuk ternak ayam. Seterusnya bumbu digiling, kecuali daun kunyit, bahan-bahan diaduk jadi satu. Kemudian mumbang kelapa diambil isi dalamnya dan dipotong-potong, lalu diaduk di atas daun, dan seterusnya dikukus. Setelah masak, kemudian dipanggang dengan arang.

Peralatan yang digunakan dalam membuat pepes ini adalah pisau untuk mengambil daun pisang; mengiris/memotong bahan-bahan. Sengkal atau penggilingan (cobekan) untuk menggiling bumbu. Kukuran kelapo atau parutan kelapa untuk membuat santan, panci atau kukusan untuk merebus (mengukus). Senduk untuk menaduk bumbu dalam kuali. Untuk memanggang, diperlukan juga panggangan yang terbuat dari kawat besi yang dijalin sedemikian rupa, agar ikan dapat dipanggang dengan baik.

Fungsi makanan ini adalah sebagai lauk untuk makan sehari-hari. Makanan ini tidak dibiasakan menjadi santapan dalam upacara-upacara baik sosial maupun keagamaan. Ikan pepes pada masa-masa musim dingin atau hari hujan yang dibarengi dengan santapan tambahan lainnya, seperti sop dan sebagainya.

Semua makanan mempunyai nilai bila dilihat dari mulai cara pembuatannya, mengerjakannya, dihidangkan untuk “siapa” (dalam arti luas) dan siapa yang yang menghidangkannya. Menurut U.U. Hamidy (1993), nilai itu beragam defenisi atau pengertian yaitu: (1) nilai adalah arti dari sesuatu; (2) nilai merupakan makna sesuatu; (3) nilai merupakan peranan sesuatu; (4) nilai sebagai guna sesuatu; (5) nilai merupakan tingkat kepandaian atau kemampuan sesuatu; (6) nilai merupakan sudut pandangan terhadap sesuatu; (7) nilai adalah kualitas atas mutu sesuatu; (8) nilai merujuk kepada bobot sesuatu; (9) nilai merupakan harga sesuatu; dan (10) nilai merupakan hakekat sesuatu.

Dengan demikian, bila dicermati suatu makanan dapat mempunyai berbagai nilai, tergantung dari segi mana kita melihatnya. Sejalan dengan itu, nilai yang terkandung dalam makanan ini bila ditelusuri terdapat nilai keuletan dan kesabaran dalam membuat masakan ini, karena proses pembuatannya tidaklah sederhana dan atau banyak memakan waktu serta perhatian. Kalau tidak selalu diperhatikan, bisa saja panggangan jadi gosong/terlalu kering. Kelalaian dalam proses pembuatan akan mengurangi nilainya dalam arti luas, misalnya ikan yang gosong tentu saja kurang enak rasanya dan kalau di restoran tidak akan laku. Kalau dipaksakan dijual, maka akan merusak nama baik penjual sendiri. Dengan demikian nilai kesabaran dan kepandaian meracik bumbumbunya merupakan nilai utama dalam makanan ini.

Sumber:
Koentjaraningrat, 1980, Pengantar Ilmu antropologi, Cet. II, Aksara Baru: Jakarta.

Melalato. M. Yunus, 1995, Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia Jilid A--K, Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (P2NB): Jakarta.

U.U. Hamidy, 1993 ; Nilai Suatu Kajian Awal. UIR Press: Pekanbaru


Orang Rimba, Masyarakat Terasing yang Semakin Termarginalisasi

Posted by Tajid Yakub on July 18th, 2006
Tulisan Kiki di situs Buana Khatulistiwa (www.bk.or.id). — Istilah masyarakat terasing telah lama beredar di Indonesia yang dipelopori Departemen Sosial sebagai institusi pemerintah yang bertugas mengurusi masalah masyarakat terasing ini. Orang Rimba merupakan salah satu dari 370 suku/sub suku yang dikategorikan Departemen Sosial sebagai masyarakat terasing, yang tersebar di pedalaman hutan-hutan di Jambi, Sumatera Selatan dan Riau.
Pada tulisan ini akan dibahas Orang Rimba yang hidup dikawasan Bukit Duabelas Jambi, dimana telah dan sedang terjadi proses marginalisasi terhadap mereka. Padahal dari 2670 jiwa Orang Rimba yang tersebar di Jambi, 1046 jiwa hidup dikawasan ini dan mereka inilah yang sampai saat ini masih sangat konsisten dan fanatik dalam menjalankan dan menjaga kelestarian adat istiadatnya.
Penyebutan Orang Rimba
Penyebutan terhadap Orang Rimba perlu untuk diketahui terlebih dahulu, karena ada tiga sebutan terhadap dirinya yang mengandung makna yang berbeda, yaitu : Pertama KUBU, merupakan sebutan yang paling populer digunakan oleh terutama orang Melayu dan masyarakat Internasional. Kubu dalam bahasa Melayu memiliki makna peyorasi seperti primitif, bodoh, kafir, kotor dan menjijikan. Sebutan Kubu telah terlanjur populer terutama oleh berbagai tulisan pegawai kolonial dan etnografer pada awal abad ini.
Kedua SUKU ANAK DALAM, sebutan ini digunakan oleh pemerintah melalui Departemen Sosial. Anak Dalam memiliki makna orang terbelakang yang tinggal di pedalaman. Karena itulah dalam perspektif pemerintah mereka harus dimodernisasikan dengan mengeluarkan mereka dari hutan dan dimukimkan melalui program Pemukiman Kembali Masyarakat Terasing (PKMT). Ketiga ORANG RIMBA, adalah sebutan yang digunakan oleh etnik ini untuk menyebut dirinya. Makna sebutan ini adalah menunjukkan jati diri mereka sebagai etnis yang mengembangkan kebudayaannya yang tidak bisa lepas dari hutan. Sebutan ini adalah yang paling proposional dan obyektif karena didasarkan kepada konsep Orang Rimba itu sendiri dalam menyebut dirinya.
Penyebutan Orang Rimba pertama kali dipublikasikan oleh Muntholib Soetomo tahun 1995 dalam desertasinya yang berjudul ‘Orang Rimbo : Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat terasing di Makekal, Propinsi Jambi’. Penyebutan Orang Rimba dengan berakhiran huruf ‘o’ pada disertasi tersebut dipertentangkan oleh beberapa antropolog meski tidak ada perbedaan makna, tetapi akhiran ‘o’ pada sebutan Orang Rimbo merupakan dialek Melayu Jambi dan Minang. Sementara fakta yang sebenarnya adalah Orang Rimba tanpa akhiran ‘o’ (Aritonang).
Persebaran dan populasi Orang Rimba di propinsi Jambi
Orang Rimba tersebar di tiga propinsi di hutan pedalaman Sumatera, yaitu propinsi Jambi, Sumatera Selatan dan Riau. Populasi terbesar berada di propinsi Jambi dengan jumlah 2670 jiwa, dengan persebaran di tiga lokasi yaitu pertama, di sekitar/sepanjang lintas jalan sumatera antara kabupaten Sarolangun Bangko dan Bungotebo dengan jumlah populasi sebesar 1259 jiwa. Kedua, di kawasan Bukit Duabelas dengan populasi sebesar 1046 jiwa dan terakhir, di kawasan Bukit Tigapuluh dengan jumlah 365 jiwa.
Kawasan Cagar Biosfer Bukit Duabelas adalah kawasan hidup Orang Rimba yang dilindungi dan ditetapkan melalui Surat Usulan Gubernur Jambi No. 522/51/1973/1984 seluas 26.800 Ha. Ditetapkannya kawasan Bukit Dua Belas sebagai Cagar Biosfir, karena kawasan ini memenuhi ciri-ciri atau kriteria yang sifatnya kualitatif yang mengacu pada kriteria umum Man and Biosphere Reserve Program, UNESCO , seperti berikut :
- Merupakan kawasan yang mempunyai keperwakilan ekosistem yang masih alami dan kawasan yang sudah mengalami degradasi, modifikasi dan atau binaan;
- Mempunyai komunitas alam yang unik, langka dan indah;
- Merupakan landscape atau bentang alam yang cukup luas yang mencerminkan interaksi antara komunitas alami dengan manusia beserta kegiatannya secara harmonis;
- Merupakan tempat bagi penyelenggaraan pemantauan perubahan-perubahan ekologi melalui kegiatan penelitian dan pendidikan (Dirjen PHPA, 1993).
Secara administratif kawasan Cagar Biosfer Bukit Duabelas terletak di antara tiga kabupaten yaitu kabupaten Sarolangun Bangko, Bunga Tebo dan Batang Hari. Ketiga kabupaten tersebut saling berbatasan di punggungan Bukit Duabelas. Kawasan yang didiami oleh Orang Rimba ini secara geografis adalah kawasan yang dibatasi oleh Batang Tabir di sebelah barat, Batang Tembesi di sebelah timur, Batang Hari di sebelah utara dan Batang Merangin di sebelah selatan. Selain itu, kawasan inipun terletak diantara beberapa jalur perhubungan yaitu : lintas tengah Sumatera, lintas tengah penghubung antara kota Bangko - Muara Bungo - Jambi, dan lintas timur Sumatera. Dengan letak yang demikian, maka dapat dikatakan kawasan ini berada di tengah-tengah propinsi Jambi.
Di kawasan Cagar Biosfir Bukit Duabelas yang merupakan wilayah tempat tinggal atau habitat Orang Rimba ini , terdapat tiga kelompok Orang Rimba yaitu kelompok Air Hitam di bagian selatan kawasan, Kejasung di bagian utara dan timur serta Makekal di bagian barat kawasan. Penamaan kelompok-kelompok tersebut disesuaikan dengan nama sungai tempat mereka tinggal. Seperti halnya masyarakat umum, Orang Rimba juga merupakan masyarakat yang sangat tergantung dengan keberadaan sungai sebagai sumber air minum, transportasi dan penopang aktifitas kehidupan lainnya. Orang Rimba hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang selalu menempati wilayah bantaran sungai baik di badan sungai besar ataupun di anak sungai dari hilir sampai ke hulu.
Budaya Orang Rimba dalam mengelola Sumberdaya Alam

Sebagaimana suku-suku terasing lainya di Indonesia, Orang Rimba yang selama hidupnya dan segala aktifitas dilakukan di hutan, juga memiliki budaya dan kearifan yang khas dalam mengelola sumberdaya alam. Hutan, bagi mereka merupakan harta yang tidak ternilai harganya, tempat mereka hidup, beranak-pinak, sumber pangan, sampai pada tempat dilakukannya adat istiadat yang berlaku bagi mereka. Begitupula dengan sungai sebagai sumber air minum dan berbagai fungsi lainnya. Perlu kita cermati disini adalah bagaimana cara mereka memperlakukan sumberdaya alam tersebut secara lestari dan berkelanjutan.
Dalam pengelolaan sumberdaya hutan, Orang Rimba mengenal wilayah peruntukan seperti adanya Tanoh Peranok-on, rimba, ladang, sesap, belukor dan benuaron. Peruntukan wilayah merupakan rotasi penggunaan tanah yang berurutan dan dapat dikatakan sebagai sistem suksesi sumberdaya hutan mereka. Hutan yang disebut rimba oleh mereka, diolah sebagai ladang sebagai suplai makanan pokok (ubi kayu, padi ladang , ubi jalar), kemudian setelah ditinggalkan berubah menjadi sesap. Sesap merupakan ladang yang ditinggalkan yang masih menghasilkan sumber pangan bagi mereka. Selanjutnya setelah tidak menghasilkan sumber makanan pokok, sesap berganti menjadi belukor.
Belukor disini meski tidak menghasilkan sumber makanan pokok, tetapi masih menyisakan tanaman buah-buahan dan berbagai tumbuhan yang bermanfaat bagi mereka yang diantaranya adalah durian, duku, bedaro, tampui, bekil, nadai, kuduk kuya, buah sio, dekat, tayoy, buah buntor, rambutan, cempedak, petai, pohon sialong (jenis pohon kayu Kruing, Kedundung, Pulai, Kayu Kawon/Muaro Keluang), pohon setubung dan tenggeris (sebagai tempat menanam tali pusar bayi yang baru lahir), pohon benal (daunnya digunakan untuk atap rumah), kayu berisil (digunakan untuk tuba ikan) dan berbagai jenis rotan termasuk manau dan jernang.
Benuaron memiliki fungsi yang sangat besar bagi Orang Rimba, dimana selain berperan sebagai sumber makanan (buah-buahan) dan kayu bermanfaat (pohon benal, sialong, dan berisil) juga berperan sebagai tanoh peranok-on. Tanah peranok-on merupakan tempat yang sangat dijaga keberadaanya, tidak boleh dibuka atau dialih fungsikan untuk lahan kegiatan lain, misalnya untuk lahan perladangan atau kebun., karena merupakan tempat proses persalinan ibu dalam melahirkan bayi/anaknya. Tanoh peranok-on yang dipilih biasanya yang relatif dekat dengan tempat permukiman atau ladang mereka serta sumber air atau sungai. Seiring berjalannya waktu, disaat seluruh tumbuhan yang terdapat di benuaron tersebut semakin besar dan tua, maka pada akhirnya benuaron tersebut kembali menjadi rimba.
Rotasi penggunaan sumberdaya hutan dari rimba menjadi ladang kemudian sesap, belukor dan benuaron, terakhir kembali menjadi rimba, merupakan warisan budaya mereka. Sehingga patut kita cermati juga bahwa Orang Rimba yang tergolong sebagai masyarakat terasing, ternyata memiliki kearifan tradisional dimana selama ini dilupakan oleh masyarakat atau pemerintah pusat.
Proses marginalisasi terhadap Orang Rimba
Lajunya pembukaan lahan serta perambahan hutan oleh pihak luar sangat dirasakan oleh Orang Rimba dikawasan ini, sehingga hampir disetiap wilayah kelompok-kelompok Orang Rimba dari hulu hingga hilir selalu dapat ditemui baik bukaan ladang ataupun penebangan kayu liar di wilayah ini. Orang Rimba merupakan suku yang tergolong defensive dan tidak terbiasa melakukan peperangan atau berjuang untuk mempertahankan haknya. Apalagi jika pihak luar tersebut masuk ke wilayah mereka dengan membawa surat bahwa mereka mendapat izin dari pemerintah, sangat dipastikan mereka akan diam saja. Hal tersebut karena mereka belum mengenal baca tulis dan yang terpenting adanya budaya mereka yang menyebutkan halom sekato rajo atau alam diatur oleh pemerintah.
Dengan adanya perkembangan dalam kehidupan Orang Rimba serta lajunya pembangunan di wilayah ini, maka saat ini telah banyak Orang Rimba yang mulai kelur dari hutan sebagai tempat tinggalnya untuk beradaptasi atau menukar hasil hutan dengan kebutuhan lain yang tidak mereka dapat didalam hutan dengan masyarakat pendatang (transmigran) dan masyarakat dusun disekitar kawasan. Selain itu perubahanpun telah menyentuh mereka, di antara mereka mulai tumbuh harapan dan hak kepemilikan meski sikap terhadap alam yang merupakan warisan nenek moyang tetap mereka jaga. Namun demikian, keterbukaan mereka terhadap masyarakat transmigran, masyarakat dusun ataupun pihak luar lainnya disalah artikan dan dimanfaatkan oleh oknum yang mencari keuntungan semata. Akibatnya, banyak terjadi pembukaan lahan secara ilegal, penebangan kayu liar dan kegiatan lainnya yang berdampak pada hancur dan rusaknya hutan tempat tinggal mereka.
Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRW-P) Jambi, sebagaian besar kawasan ini diperuntukkan sebagai areal budidaya perkebunan dalam bentuk HTI, budidaya kehutanan (HP dan HPT), dan kawasan konservasi Cagar Biosfer Bukit Duabelas seluas 26.800 ha. Jelas disini pemerintah daerah Jambi, tidak secara lengkap melihat data dilapangan dan seperti halnya kebiasaan di masa Orde Baru, perencanaan tata ruang selalu dibuat diatas kertas tanpa data lapangan yang detail. Dengan adanya RTRW-P Jambi tersebut, maka dikawasan tersebut sudah banyak dimulai penebangan, baik penebangan tebang jalur ataupun tebang habis. Padahal surat izi bagi instansi yang bergerak di HTI ini belum keluar.
Dapat disimpulkan bahwa ancaman keterdesakan terhadap wilayah tempat tinggal Orang Rimba, bukan hanya datang dari masyarakat di sekitar kawasan, tetapi juga dari pemerintah yang masih menutup mata terhadap keberadaan mereka. Dalam kondisi yang demikian, sangat tidak mungkin jika Orang Rimba dibiarkan berjuang sendiri untuk mempertahankan wilayah mereka, selain baru mengenal budaya baru dan hak kepemilikan, merekapun belum mengenal baca tulis. Sehingga perlu ada lembaga/organisasi atau institusi baik dari pemetintah ataupun non pemerintah yang membantunya.
Direktorat Bina masyarakat Terasing
Pemerintah Indonesia dalam menangani masalah masyarakat terasing, membentuk Direktorat Bina Masyarakat Terasing dibawah Departemen Sosial. Institusi pemerintah ini memiliki pandangan bahwa sesuai dengan penyebutan sebagai masyarakat terasing yang secara definitif berarti kelompok masyarakat yang mendiami suatu lokasi tertentu, baik yang orbitasinya terpencil, terpencar dan berpindah-pindah maupun yang hidup mengembara di kawasan laut, yang taraf kesejahteraannya masih mengalami ketertinggalan, ditandai oleh adanya kesenjangan sistem sosial, sistim ideologi dan sistim teknologi mereka, serta belum atau sedikit sekali terintegrasi dalam proses pembangunan nasional(Dir. BMT,1992), maka masyarakat tersebut akan di bina dan di mukimkan seperti halnya masyarakat umum di Indonesia. Pembinaan yang dimaksudkan adalah untuk mengarahkan mereka untuk memiliki sistem sosial, ideologi, teknologi serta kesejahteraan yang sesuai dengan ukuran masyarakat umum. Salah satu program yang dilakukan adalah program Pemukiman Kembali Masyarakat Terasing (PKMT), dimana dengan program tersebut Depsos melalui Dir.BMT membuat rumah-rumah untuk masyarakat tersebut.
Program PKMT yang telah berjalan lebih dari 10 tahun diberbagai daerah, ternyata tidak mendapatkan respon positif dari masyarakat yang tergolong terasing ini. Begitu pula Orang Rimba, dengan budaya yang mereka miliki dan masih dilakukan hingga kini seperti melangun, memungkinkan mereka menolak program tersebut. Sangat disayangkan, instansi yang berwenang untuk menangai masalah masyarakat ini tidak melihat keragaman budaya yang dimiliki oleh suku-suku terasing ini sebuah kekayaan budaya yang patut dipertahankan. Sebagai negara besar yang memiliki wilayah yang luas dengan penduduk yang sangat banyak (210 juta jiwa) serta budaya yang beragam, maka perlu kiranya kita bersama-sama untuk menjaga keragaman tersebut.
Sebagai penutup, dengan tulisan ini penulis mencoba untuk membuka mata kita bahwa masih ada masyarakat yang masih jauh dari pembangunan yang saat ini hidup secara lestari, arif dan bijaksana dalam mengelola sumberdaya alam. Namun demikian, keberadaan mereka juga semakin terdesak oleh yang namanya ‘pembangunan’, meski ‘pembangunan’ tersebut hanya untuk beberapa orang saja. (R. Kiki Taufik)

3 Komentar di “Orang Rimba, Masyarakat Terasing yang Semakin Termarginalisasi”

Siswi SMP 8 Bangko Dilarang Berjilbab

Ditulis pada oleh dendi setiawan
Wednesday, 19 March 2008
Juga Dilarang Yasinan di Sekolah
BANGKO - Aturan mengejutkan diperlakukan di SMPN 8 Bangko. Siswi sekolah yang terletak di lokasi PT Kresna Duta Agorindo (KDA) Langling Kecamatan Bangko, Kabupaten Merangin ini dilarang memakai jilbab yang dikabarkan tidak diperbolehkan oleh kepala sekolahnya Saidina Ali SPd. Alasan pelarangan memakai jilbab ini menurut para siswi dan guru karena kepala sekolah (Kepsek) berdalih belum adanya ketentuan yang jelas yang membolehkan siswinya memakai pakaian yang menutup aurat itu.

Tak hanya itu, sang Kepsek dikabarkan juga melarang siswa-siswinya untuk mengadakan yasinan setiap Jumat pagi.
“Katanya tak ada aturan dari Dinas Pendidikan pakai jilbab. Nanti boleh pakai lagi kalau sudah aturan dari Dinas pendidikan,” ujar seorang siswi yang enggan menyebutkan namanya pada Koran ini kemarin.
Menyusul sikap Kepsek yang mengundang keprihatinan itu, sejumlah gurunya juga merasa terancam. Karena dituding memprovokasi siswa untuk melawan kebijakan yang dilakukannya.
Informasi yang dihimpun Koran ini menyebutkan, mencuatnya pelarang memaikai jilbab itu, setelah sang guru agama Mardona dihadapan siswanya menyebutkan sebagai muslimah wajib menutup aurat. Karena itu akan melindungi diri dari perbuatan jahat serta bisa melindungi diri dari sengatan matahari.
Materi itu disampaikan kepada siswa kelas I, II dan III, saat mengajar pelajaran agama. Penyampaian itu tampaknya diresponi siswinya. Berlanjut kemudian siswi-siswinya dari hari ke hari makin banyak memakai jilbab dengan tetap pakaian sekolah putih biru.
Menurut Mardona, dan Azwar Anas keduanya guru di sekolah yang berada dalam lahan kebun sawit menjelang PKS (Pabrik Kelapa Sawit) PT KDA, Kepsek Saidina Ali, Rabu (13/3) siang hari mengumpulkan siswanya. Itu terjadi sekitar dua minggu setelah banyak siswi di sekolah itu memakai jilbab. Saat itu ia menyebutkan pelarangan pakai jilbab alasannya tidak ada ketentuan dari Dinas Pendidikan.
Berikutnya, sebagaimana juga disampaikan sejumlah siswi itu pada Koran ini esoknya, Kamis (13/3) kembali sekitar pukul 12.30 WIB siswinya yang memakai jilbab dikumpulkan di kantor. Informasinya siswi, di ruang itu mereka dimarahi karena memakai jilbab hingga membuat para siswi ketakutan.
Sikap ini mengundang keprihatinan Azwar Anas salah seorang guru berinisiatif menemui Kepsek. Karena tak bisa menerima sikap Kepsek yang demikian. Berlanjut kemudian keduanya berangkat ke Bangko menuju Kantor Diknas Merangin untuk minta kejelasan soal jilbab dipakai di sekolah negeri yang bukan sekolah agama. Diterima Mashuri, pejabat Diknas Merangin, Saidina belum bisa menerima soal jilbab itu.
Sementara itu, yasinan yang digelar tiap Jumat juga sudah tidak dilaksanakan di sekolah itu sejak dua minggu lalu jelang pelarangan jilbab. Padahal, Mardona hanya melanjutkan program guru agama sebelumnya, Yusni, guru sebelumnya yang kini sudah pindah ke sekolah lain.
Saidina yang coba dikonfirmasi di sekolah kemarin, yang bersangkutan tak berada di sekolah. Informasi dari guru, ia keluar sekolah. Persoalan itu juga sampai ke pihak PT KDA. Perusahaan yang mendirikan sekolah itu. Dimana Senin (17/3) guru Mardona, Azwar Anas dan Ade dipanggil Manager PT KDA Andi dan Najamuddin, Estate Manager. Mereka minta kejelasan soal permasalahan jilbab di sekolah itu. Menurut kedua guru itu, pihak perusahaan tidak mempersoalkan jilbab itu.
Namun Saidina Ali saat dikonfirmasi malam tadi melalui ponsel membantah kalau dirinya melarang siswi memakai jilbab. Informasi yang ada sebutnya sengaja diberikan oleh orang yang ingin menjatuhkannya yang belum tentu benarnya.
“Solusinya sudah ada dari pihak perusahaan (PT KDA, red) dimana anak tidak dilarang memakai jilbab. Juga tak ada pemaksaaan,” ujarnya malam tadi.
Bagian Dikmen Diknas Merangin Drs H Saman Kani dan Erizal S Pd yang dikonfirmasi siang kemarin menyebutkan kalau soal aturan baru pemakaian jilbab memang tak ada. “Kalau mau pakai jilbab silakan. Juga tidak ketentuan yang melarang memakai jilbab,” ujarnya.
Saman mengakui belum turun ke sekolah itu. Namun ia menyebutkan siang kemarin Kepsek Saidina datang ke Diknas menyampaikan persoalan itu. Isi laporan Saidina, Mardona menyuruh siswa pakai jilbab tanpa memberi tahu dulu dirinya sebagai Kepsek. Pantauan koran ini suasana di sekolah itu anak yang tak menerima pelarangan itu tetap berjilbab.
Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama Provinsi Jambi, H Kadir Husein menyesalkan adanya tindakan pelajaran penggunaan jilbab di sekolah. Mengingat, menutup aurat merupakan perintah agama, yang kebetulan instrumennya adalah jilbab. ”Meski tidak ada dalam aturan Diknas, saya kira tidak boleh ada pelarangan seseorang dalam mengunakan Jilbab. Kecuali jika sekolah yang bersangkutan menganut ideologi lain,” tuturnya.
Oleh karena itu, sebagai pimpinan organisasi keagamaan terbesar di Provinsi Jambi ini, Kadir Husein menghimbau kepada kepala sekolah yang bersangkutan agar menghormati keinginan orang lain untuk menjalankan agamanya. Karena kebebasan menjalankan agama ini merupakan bagian dari hak azasi manusia (HAM). ”Saya harapkan masyarakat dapat menghormati hak orang lain dalam menjalankan agamanya,” tuturnya.
Pendapat yang sama juga dilontarkan oleh Sekretaris I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jambi, A Haris PhD. Menurut doktor lulusan Universiti McGil Kanada ini, kewajiban menggunakan jilbab merupakan perintah agama. Tidak boleh ada orang yang melarang orang lain dalam menjalankan perintah agama masing-masing. ”Kalau mereka melarang, berarti itu sama saja melanggar HAM,” tandasnya. (nio/arm)